my resipi


Pidato Sambutan Ketua Senat Akademik Pada Wisuda Gelombang II UPI Bandung, Sesi Pertama, Rabu 24 Agustus 2016

23-08-2016 15:07:18

Mewujudkan Tujuan Pendidikan yang Hakiki

 

Bismillahir rahmanir rahim, alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya`i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

 

Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota MWA UPI; Bapak Rektor, para Wakil Rektor dan Sekretaris Eksekutif; para Anggota Senat Akademik; Pimpinan dan Anggota Dewan Guru Besar.

 

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Dekan serta para Wakil Dekan; Direktur Sekolah Pascasarjana dan Asisten Direktur; Ketua dan Sekretaris LPPM; Direktur Kampus Daerah dan Sekretaris Direktur; Ketua dan Sekretaris Departemen; Ketua Prodi; serta Bapak dan Ibu dosen.

  

Yang saya hormati, pimpinan IKA, IIK, dan ORMAWA UPI;

Para tamu undangan yang saya muliakan,

Para wisudawan berserta keluarga yang berbahagia.

 

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala yang senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita setiap saat.   

 

Para wisudawan dan hadirin yang berbahagia,

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan keluarga atas anugerah menjadi sarjana, magister, dan doktor, teriring doa mudah-mudahan para wisudawan memperoleh ilmu yang bermanfaat, ilmu yang memandu pada amal, dan amal yang membawa pada kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

Menjadi sarjana, magister, dan doktor bukanlah tujuan yang sebenarnya. Lulus dengan predikat Cumlaude bukanlah tujuan final. Diraihnya jabatan guru besar bukanlah tujuan utama karir seorang dosen.  Meraih akreditasi A bukanlah tujuan hakiki penyelenggaraan prodi. Menjadi juara olimpiade internasional bukanlah tujuan puncak. Meskipun semua itu penting, tetapi bukan tujuan yang hakiki. Boleh jadi, apa yang disebut kemajuan oleh pihak lain justru merupakan kemunduran bagi kita. Apa yang dipandang keberhasilan oleh orang lain, justru merupakan kegagalan bagi kita.

Hal itu bukan apologia atas ketidakeberdayaan kita dalam merespon perkembangan zaman. Kita harus bekerja menurut keyakinan dan nilai-nilai budaya sendiri. Saya sangat yakin, jika kita bekerja dengan sungguh-sungguh, maka berbagai standar yang ditetapkan institusi lain dapat dipenuhi dengan sendirinya.

Sebenarnya, kita perlu memiliki instrumen yang dirumuskan dari budaya dan alam kehidupan kita sendiri, yang dapat digunakan untuk mengukur kemajuan kita sendiri. Bagaimana mungkin busana yang akan kita kenakan didasarkan atas ukuran orang lain. Tentu saja tidak akan cocok.

Kita menjadi galau dan risau, bahkan resah dan gelisah karena hidup dalam perspektif orang lain. Menurut alam pikiran orang lain. 

Seorang anak yang jengkel karena sepatunya terbawa ombak, dia menulis di pasir, “Samudra ini pencuri!”

Tatkala nelayan berhasil menangkap ikan yang banyak di sana, dia pun menulis di pasir, “Samudera ini sungguh pemurah.”

Tatkala seorang pemuda tenggelam, ibunya menulis di pasir, “Samudra ini pembunuh!”

Seorang kakek yang mendapatkan mutiara, menulis, “Samudra ini dermawan”. 

Kemudian datanglah ombak besar yang menyapu seluruh tulisan, maka segala tuduhan sirna, dan semua sanjungan tak berbekas.

Masing-masing kita memiliki perspektif sendiri yang diyakini kebenarannya. Maka tidak perlu menggunakan perspektif orang lain yang belum tentu benar.

Demikian pula dengan tujuan pendidikan. Kita memiliki rumusan tujuan sendiri, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlakul karimah. Inilah tujuan yang sebenarnya. Tujuan ini melekat pada agama, filosofis, dan budaya kita seperti melekatnya teori dengan praktik, laksana matahari dan sinarnya; ibarat kata dan maknanya; bagaikan pakaian dan fungsinya. 

 

Keimanan, ketakwaan, dan akhlakul karimah inilah yang harus dimiliki oleh setiap individu yang akan menjadi anggota sebuah keluarga, sebuah etnis, sebuah bangsa. Ya, sebuah bangsa yang memiliki karakter sendiri sebagai anggota masyarakat global.

Tujuan inilah yang perlu kita wujudkan secara individual, oleh kita masing-masing, oleh diri sendiri; bukan oleh sekolah, bukan oleh guru, bukan pula oleh pemerintah. Karena yang harus bertanggung jawab atas diri kita adalah kita sendiri.  Kemajuan dan keterpurukan itu bersumber dari dalam jiwa dan pikiran kita sendiri. Maka perbaikan harus dimulai dengan memperbaiki apa saja yang ada dalam jiwa dan pikiran kita. Inilah cara yang disarankan Tuhan, “Innallaha la yughayyiru ma biqauin hatta yughayyiru ma bi `anfusihim

“Sungguh Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada dalam jiwanya, dalam pikirannya, dalam dirinya”.

Kita jangan sedih karena dipandang tertinggal jauh dari negara lain.  Allah melarang kita bersedih.  Kesedihan itu memperlemah qalbu, melemahkan tekad, membahayakan kehendak. Tidak ada perkara yang paling disukai setan kecuali bersedihnya seorang mu’min. Kesedihan itu dilarang Tuhan.

Karena itu, bergembiralah, optimislah, berbaik sangkalah kepada Tuhan, percayalah kepada apa yang dimiliki-Nya. Jangan terlampau keras memikirkan dan dan mengatur dunia ini, karena semesta ini berikut penghuninya telah diatur oleh pemiliknya Yang Maha Mengatur, Yang Maha Mengurus, dan Yang Maha Mengetahui.  Dia-lah Tuhan.

 

Para wisudawan dan hadirin yang berbahagia,

Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian.

Akhirul kalam wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Bandung, Rabu, 24 Agustus 2016, Pukul 07.30 – 11.00

Ketua Senat Akademik UPI,

Syihabuddin, Prof. Dr.


Berita | Kontak

© Copyright Senat Akademik UPI 2008