my resipi


Pidato Sambutan Ketua Senat Akademik Pada Wisuda Gelombang II UPI Bandung, Sesi Kedua, Rabu 24 Agustus 2016

23-08-2016 15:08:02

Menguatkan Kehendak, Menuai Amal

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb. 

Bismillahir rahmanir rahim, alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya`i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

 

Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota MWA UPI; Bapak Rektor, para Wakil Rektor, dan Sekretaris Eksekutif; para Anggota Senat Akademik; Pimpinan dan Anggota Dewan Guru Besar.

 

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Dekan serta para Wakil Dekan; Direktur Sekolah Pascasarjana dan Asisten Direktur; Ketua dan Sekretaris LPPM; Direktur Kampus Daerah dan Sekretaris Direktur; Ketua dan Sekretaris Departemen; Ketua Prodi serta Bapak dan Ibu dosen.  

 

Yang saya hormati, pimpinan IKA, IIK, dan ORMAWA UPI;

Para tamu undangan yang saya muliakan,

dan para wisudawan berserta keluarga yang berbahagia.

 

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala yang senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita setiap saat dan dalam berbagai keadaan. 

 

Para wisudawan dan hadirin yang berbahagia,

Kesuksesan Anda pada hari ini merupakan hasil dari proses yang terpadu antara kehendak yang kuat (al-iradah) untuk meraih tujuan, pemikiran dan pemahaman tentang tujuan, dan perencanaan yang sungguh-sungguh dalam kegiatan.  Sebuah karya selalu diawali dengan terbetiknya suatu ide (al-khathirah) di dalam jiwa manusia. Kemudian ide itu menggerakkan kehendak atas suatu hal pada waktu tertentu, baik gerakan itu bersifat mendorong untuk melakukan sesuatu atau bersifat mengekang agar meninggalkan sesuatu.  

Kehadiran gagasan awal tersebut akan diikuti dengan munculnya pikiran yang kemudian menganalisis, merancang, dan mengevaluasi gagasan, sehingga lahirlah rencana yang memandu manusia untuk mengikutinya.   Rencana tersebut diwujudkan dengan pelaksanaan secara nyata oleh anggota tubuh (al-‘amal).  Pada fase ini terjadi peralihan dari rencana ke dalam tindakan secara operasional.

Dalam melakukan kegiatan, manusia tidak pernah terlepas dari ketiga langkah di atas. Setiap manusia selalu melakukan satu, dua, atau ketiga langkah amal itu. Namun, ada pula orang yang berhenti pada betik pikiran, sehingga karyanya hanya sebatas keinginan. Ada yang berhenti pada pikiran, sehingga karyannya hanya sebatas gagasan. Dan ada juga yang mewujudkan keinginan dan gagasannya menjadi karya nyata. Inilah yang diharapkan dari setiap individu.   

Jika individu mengikuti setiap langkah dengan sempurna, maka dia akan menghasilkan amal shaleh.  Keberhasilan amal itu dimulai dari langkah pertama, yaitu al-iradah. Jika kehendak seseorang itu kuat, benar, dan positif, maka keadaan demikian akan berimbas pada kekuatan dan kebaikan langkah kedua, yaitu al-fikrah.  Nabi saw. mengistilahkan iradah ini dengan niat. Dalam hadits Shahih Bukhari ditegaskan bahwa amal itu tergantung pada niatnya, yaitu pada iradah atau kehendak untuk mewujudkannya.

Para wisudawan dan hadirin yang berbahagia,

Persoalannya sekarang, bagaimana caranya agar kita memiliki kehendak atau niat yang kuat? Ternyata, kuat atau lemahnya niat dan kehendak tergantung pada pengalaman individu yang diperoleh dari lingkungannya, baik lingkungan keluarga, masyarakat, maupun alam sekitarnya. Pengalaman-pengalaman tersebut akan berinteraksi dengan fithrah manusia yang menjadi potensi dirinya sejak lahir. Interaksi yang intensif dan berkesinambungan antara pengalaman dengan fitrah tersebut akan membentuk struktur amal yang terdiri atas tiga langkah seperti dikemukakan tadi. Pembentukan dan pembinaan struktur inilah yang menjadi tugas pendidikan yang berbasis nilai Islam. Aspek iradah dilakukan terhadap jiwa manusia, pembinaan aspek pikiran dilakukan terhadap akal atau intelektual manusia, dan pembinaan anggota badan dilakukan terhadap fisik dan kesehatan jasmani manusia.

Ketiga komponen tersebut tersaji dalam sebuah siklus yang berkelindan dan saling mengokohkan secara berkesinambungan. Kegiatan interaksi antara pengalaman dengan fitrah menempati posisi yang paling strategis dalam siklus tersebut. Jika pendapat ini diterima, maka sangatlah penting bagi kita untuk memajankan anak didik kita ke dalam kehidupan nyata, ke dalam sekolah yang sebenarnya, dan ke dalam dunia ilmu yang paling benar, yaitu kepada ayat-ayat Tuhan yang dibentangkan di muka bumi dan alam semesta. Karena pengalaman yang hakiki bagi ilmu pegetahuan ialah dengan melaksanakannya. Nilai hakiki bagi suatu perbuatan dimulai dari dunia pengamalan.

Kegiatan interaksi pengalaman dengan fitrah akan mengasah qalbu yang merupakan bagian yang paling mulia dari diri manusia. Guru hendaknya bekerja menyempurnakan qalbu itu, membersihkannya, dan membimbingnya agar dekat dengan Allah.

Pada gilirannya interaksi tersebut akan melahirkan amal yang berfungsi membeningkan cermin qalbu dari berbagai kotoran, dari akhlak yang tercela, dan dari kegelapan hawa nafsu yang mengahalangi manusia dari mengetahui Allah, mengetahui perbuatan-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Jika kegiatan interaksi tersebut berhasil melahirkan individu yang mengenal Allah, lalu beribadah kepada-Nya, maka tercapailah tujuan pendidikan yang sebenarnya.

Para wisudawan dan hadirin yang berbahagia,

Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan. Sekali lagi selamat. Semoga kita dianugerahi ilmu yang bermanfaat. Terima kasih.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bandung, 24 Agustus 2016, Pukul 13.30 – 17.00

Prof.Dr. Syihabuddin

Ketua Senat Akademik UPI


Berita | Kontak

© Copyright Senat Akademik UPI 2008