my resipi


Pidato Sambutan Ketua Senat Akademik Pada Wisuda Gelombang II UPI Bandung, Sesi Pertama, Kamis 25 Agustus 2016

23-08-2016 15:08:44

Meraih Keberkahan Ilmu dengan Amal Saleh

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb. 

Bismillahir rahmanir rahim, alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya`i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

 

Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota MWA UPI; Bapak Rektor, Bapak-bapak Wakil Rektor dan Sekretaris Eksekutif; para Anggota Senat Akademik; Pimpinan dan Anggota Dewan Guru Besar.

 

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Dekan, para Wakil Dekan; Direktur Sekolah Pascasarjana dan Asisten Direktur; Pimpinan LPPM; Direktur Kampus Daerah dan Sekretaris Direktur; Ketua dan Sekretaris Departemen; Ketua Prodi serta Bapak dan Ibu dosen.  

 

Yang saya hormati, pimpinan IKA, IIK, dan ORMAWA UPI;

Para tamu undangan yang saya muliakan, dan para wisudawan berserta keluarga yang berbahagia.

 

Pada kesempatan yang baik ini, marilah kita bersyukur kepada Allah Ta’ala yang senantiasa melimpahkan karunia-Nya kepada kita setiap saat dan dalam berbagai keadaan. 

 

Para wisudawan. Selamat. Alhamdulillah. Allah telah mengabulkan doa kita semua. Akhirnya Anda semua dapat mengikuti pelantikan kelulusan pada jenjang pendidikan masing-masing.

Dalam moment pelantikan ini saya ingin berbagi pandangan dengan para wisudawan sekalian, berkenaan dengan pembangunan di bidang pendidikan.  

 

Menurut seorang ahli, Prof. Dr. Komarudin Hidayat, pembangunan suatu bangsa haruslah dimulai dengan pembangunan politik, lalu meningkat ke pembangunan ekonomi, pendidikan, dan memuncak pada pembangunan kebudayaan.  Pembangunan negara kita pun dimulai dengan pembangunan politik, lalu diikuti dengan pembangunan ekonomi.  Seharusnya tahap berikutnya, bangsa kita fokus pada pembangunan pendidikan. Tetapi sayang, yang terjadi adalah kita kembali melakukan pembangunan politik, bahkan hingga saat ini. Bangsa kita memang salah kaprah. Kita tertinggal jauh dibanding dengan negara tetangga.

 

Para wisudawan dan hadirin yang berbahagia,

Saya tidak akan menyenaraikan kekuarangan dan aib kita secara rinci, sebab saya yakin kita semua yang hadir di ruangan ini telah mengetahuinya dengan baik.  Saya hanya ingin mengajak para wisudawan sekalian untuk berkontribusi dalam menyelesaikan keterpurukan itu selaras dengan kapasitas masing-masing.

 

Menurut pandangan saya yang barsahaja, persoalan itu muncul karena dalam kehidupan ini terlalu banyak manusia yang berperan sebagai penonton. Dalam permainan sepak bola, misalnya, penonton itu biasanya hanya pandai mencaci-maki dan menghujat jika kalah, dan bersorak-sorai jika menang. Penonton akan memaki siapa saja yang dianggap sebagai biang kerok kekalahan. Padahal, dia sama sekali tidak memiliki otoritas dan kompetensi untuk melakukan itu.

Karena itu, janganlah menjadi penonton yang hanya membuat gaduh suasana. Jadilah pemain. Karena pemain itu akan berfokus pada tujuan yang jelas, yaitu kemenangan. Sasarannya adalah gawang lawan. Jangan pula menjadi wasit, karena wasit berfokus pada kesalahan pemain.

 

Dalam konteks ini, kemenangan itu saya asosiasikan sebagai amal saleh. Agar kita dapat berkontribusi dalam memperbaiki kualitas masyarakat, maka kita perlu tampil sebagai pelaku dan partisipan yang memahami prinsip-prinsip amal saleh.

 

Pertama, amal saleh itu hendaknya dapat menyempurnakan amal lain. Amal ritual hendaknya menyempurnakan amal sosial dan amal kauni atau kealaman. Sosok individu yang saleh hanya terwujud, jika amal ritual, sosial, dan kealamannya saling menyempurnakan.

 

Kedua, amal saleh tidak hanya terfokus pada pemerolehan kebaikan, tetapi juga pada pencegahan keburukan. Di samping berdampak kebaikan, amal itu mesti berfungsi untuk mencegah kerusakan dan keburukan.

 

Ketiga, amal saleh hendaknya bersifat etis dan produktif.  Jika amal itu hanya bersifat etis, tetapi tidak produktif, maka ia tidak membuahkan keuntungan dan tidak mencegah kerugian. Amal itu tidak akan membuahkan kebahagiaan.  

 

Keempat, amal itu hendaknya bermanfaat. Sebuah amal dimaksudkan untuk melahirkan manfaat. Artinya, amal itu menggenapi dan menyempurnakan kebaikan yang terkandung dalam segala ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Para wisudawan yang berbahagia dan hadirin yang saya hormati,

 

Marilah kita berkarya dalam bidang apa saja yang kita kuasai dan kita pahami. Yang penting karya itu memenuhi keempat prinsip tadi. Tidak perlu linier seperti guru besar. Para ulama muslim terdahulu dikenal memiliki banyak keahlian. Ibnu Rusyd, misalnya, memiliki keahlian dalam bidang kedokteran, astronomi, pendidikan dan selainnya. Dia tidak memfokuskan diri pada satu keahlian. Mereka menjadi muslim yang kaffah, yang allround, yang masagi.  Saya pikir, pada zaman sekarang, para penilai GB akan sulit menentukan kegurubesarannya.

 

Sungguh, dimensi waktu yang melingkupi kehidupan kita menjadi sirna bila tidak diisi dengan kegiatan. Rangkaian kehidupan kita hanya dapat ditandai dengan kegiatan. Janganlah menjadi generasi sofa dan kentang, kata Paus Fransiskus. Yaitu generasi yang hanya duduk di sofa sambil menyantap keripik kentang, sibuk membaca Whats App dan membuat status. Itulah gejala Letargi, yaitu kelelahan yang ditandai kemunduran peradaban. Letargi peradaban membuat kita gagal menggerakkan kapasitas mental untuk mencari alternatif yang paling optimum untuk mengatasi keterpurukan.

 

Inilah matinya suatu umat, sirnanya sebuah komunitas. Tinggallah mereka sebagai kotoran dan buih yang sirna dihempas angin. Begitulah menurut sabda Nabi saw.

 

Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian.

 

Akhirul kalam wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Bandung, Kamis, 25 Agustus 2016, Pukul 07.30 – 11.00

Ketua Senat Akademik UPI,

Syihabuddin, Prof. Dr.


Berita | Kontak

© Copyright Senat Akademik UPI 2008