my resipi


Pidato Sambutan Ketua Senat Akademik Pada Wisuda Gelombang II UPI Bandung, Sesi Kedua, Kamis 25 Agustus 2016

23-08-2016 15:09:35

Ujian untuk Meningkatkan Kualitas Karya Manusia

Assalamu’alaikum Wr. Wb. 

Bismillahir rahmanir rahim, alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya`i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota MWA UPI; Bapak Rektor, Bapak-bapak Wakil Rektor dan Sekretaris Eksekutif; para Anggota Senat Akademik; Pimpinan dan Anggota Dewan Guru Besar.

Yang saya hormati Bapak dan Ibu Dekan, para Wakil Dekan; Direktur Sekolah Pascasarjana dan Asisten Direktur; Pimpinan LPPM; Direktur Kampus Daerah dan Sekretaris Direktur; Ketua dan Sekretaris Departemen; Ketua Prodi; Bapak dan Ibu dosen.  

Yang saya hormati, pimpinan IKA, IIK, dan ORMAWA UPI;

Para tamu undangan yang saya muliakan, dan para wisudawan berserta keluarga yang berbahagia.

Selamat. Alhamdulillah. Allah telah mengabulkan doa kita semua. Akhirnya Anda semua menjadi sarjana, magister, dan doktor.  Inilah pencapaian yang dianugerahkan Tuhan yang Maha Kuasa.

Para wisudawan dapat meraih pencapaian tersebut setelah melalui serangkaian ujian yang dilaksanakan pada akhir perkuliahan, akhir semester, dan akhir setiap jenjang. Ujian itu dilakukan guna menilai kualitas akademik Anda. Begitulah yang selama ini Anda alami. Namun, sebentar lagi Anda akan mengalami proses yang sebaliknya, yaitu kehidupan yang akan menguji Anda terlebih dahulu, lalu kehidupan itu akan memberikan pelajaran kepada Anda. Pengujinya bukanlah guru atau dosen, tetapi guru yang sebenarnya, yaitu kehidupan.

Hadirin dan para wisudawan yang berbahagia, 

Hubungan antara manusia dengan kehidupan merupakan hubungan ujian. Kehidupan merupakan wahana ujian. Ujian itu dapat berbentuk kebaikan, al-khairat, al-hasananat, dan as-sarra`. Dan dapat pula berbentuk keburukan, asy-syar, as-syayyi’at, dan adh-dharra`.   

Manusia senantiasa diuji dengan dua jenis ujian ini.  Ada orang yang diuji dengan kepintaran, ada pula yang diuji dengan kebodohan.  Orang berilmu akan diuji dengan seberapa konsisten dia mengamalkan ilmunya, menyebarkannya, mengajarkannya, dan memanfaatkannya untuk kesejahteraan umat manusia. Sementara orang bodoh akan diuji dengan kesungguhan dalam mencarinya, mempelajarinya, dan mengamalkannya. 

Dari kedua jenis ujian tersebut, ujian dengan kebaikan itu lebih berat daripada ujian dengan keburukan. Nabi saw. menegaskan, “Ujian dengan kesejahteraan lebih aku khawatirkan daripada ujian dengan keburukan. Jika diuji dengan kesulitan, mungkin kalian dapat bertahan dan bersabar. Tetapi jika diuji dengan kenyamanan, banyak manusia yang gagal.”

Dalam menghadapi ujian tersebut, manusia memiliki tiga alternatif.  Pertama, ada orang yang memilih keburukan. Sudah tanggung, katanya. Kadung basah, mandi saja sekalian. Sudah jadi koruptor, lanjutkan saja korupsinya dengan yang lebih besar. Na’udzu billah. Kedua, orang yang pasrah dengan keburukan yang dialaminya. Ketiga, orang yang berupaya untuk menghentikan keburukan.  Ilmu yang kita miliki mestilah mendorong kita untuk memilih alternatif ketiga. Yaitu menghentikan keburukan, menyingkirkan kebodohan dengan belajar, menghilangkan kemiskinan dengan bekerja, dan menyembuhkan penyakit dengan berobat.

Ujian yang kita alami itu terjadi dalam dimensi waktu yang mengenal awal dan akhir. Karena itu, bersabarlah dalam melakukan usaha untuk mengakhiri ujian. Siapa yang menginginkan siang pada permulaan malam, hendaklah dia bersabar hingga siang menjelang. Bersabarlah menghadapi kesembuhan. Sebab ujian yang ditempuh manusia itu selaras dengan perbedaan kapasitas masing-masing.  Karena itu, para nabi dan orang saleh menerima ujian yang lebih berat daripada manusia pada umumnya.

Menunggu berakhirnya ujian bukan berarti pasrah atas keburukan tersebut. Dia perlu terus melakukan perbaikan. Kita perlu melipatgandakan usaha. Tapi, jangan sampai keliru dalam menyelesaikan ujian. Ada manusia yang menghilangkan ujian keburukan dengan keburukan yang lain.

Jika kita gagal menghadapi ujian, maka timbullah fitnah.  Fitnah merupakan bentuk kegagalan dalam menghadapi ujian dan cobaan. Pelakunya jatuh ke dalam kesalahan dan keburukan. Lalu keburukan tersebut berimbas kepada pihak lain yang tidak terlibat secara langsung. Bahkan berdampak buruk terhadap banyak hal. Fitnah inilah yang banyak terjadi di akhir zaman.

Hadirin dan para wisudawan yang berbahagia, 

Sekali lagi saya ingin menegaskan bahwa ujian itu bertujuan agar kita mengetahui aneka kelemahan dan kekurangan kita, lalu kita belajar agar dapat memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan kekurangan, sehingga tercapailah peningkatan kualitas amal kita. Allah berfirman, Al-ladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala.

Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian.

Akhirul kalam wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Bandung, Kamis, 25 Agustus 2016, Pukul 13.30 – 17.00

Ketua Senat Akademik UPI,

Syihabuddin, Prof. Dr.


Berita | Kontak

© Copyright Senat Akademik UPI 2008