my resipi


Pidato Sambutan Ketua Senat Akademik Pada Dies Natalis Universitas Pendidikan Indonesia ke-62, 20 Oktober 2016

21-10-2016 15:47:04

DIES NATALIS UPI KE-62

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillahir rahmanir rahim, alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, washshalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya`i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Yang saya hormati Bapak Rektor UPI pada periode sebelumnya, Bapak Rektor, Wakil Rektor, Sekretaris Eksekutif, Dekan, Direktur, Kepala Biro, dan seluruh pegawai UPI. Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat, Senat Akademik, dan Dewan Guru Besar. Pimpinan dan pengurus IKA, IIK, dan Ormawa UPI.

Hadirin tamu undangan yang saya muliakan.     

Pada moment dies natalis ini, ungkapan yang paling tepat kita sampaikan adalah, Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Bagi-Mu segala puji, ya Allah. Puji sepenuh langit dan bumi. Sepenuh ruang apa saja dan mana saja yang Engkau kehendaki. Terima kasih Tuhan. Engkau telah menganugerahkan sebilangan kenikmatan kepada kami. Engkau telah melimpahkan senarai keberkahan kepada kami. Engkau telah melabuhkan kami di usia 61 tahun. Usia yang cukup memadai untuk menampilkan prestasi.

Hadirin yang saya muliakan,

Inilah moment yang tepat untuk berduaan dengan dunia kita, dengan UPI kita, dan dengan diri kita sendiri. Inilah saatnya bermuhasabah, untuk mengaji diri dengan  jujur. Inilah waktunya untuk belajar dari orang lain. Karena perkara yang paling sulit ialah memahami kekurangan diri,  dan perkara yang paling mudah ialah menasihati orang lain. Tatkala kita melakukan evaluasi diri,  sulitlah bagi kita menemukan kelemahan dan kekurangan kita. Namun, saat asesor datang, tampaklah kekurangan dan kelemahan kita.

Setelah kita bermuhasab, maka paling tidak, kita akan menemukan tiga hal: keberhasilan, pengalaman, dan kegagalan.  

Kita mencatat sebilangan keberhasilan berupa prestasi nasional dan internasional yang diraih para mahasiswa. Kita menjadi optimis dalam menatap masa depan, tatkala melihat kecerdasan dan kesalehan mereka. Saya dengar, sebelum esoknya regu itu bertanding,  mereka yasinan dulu. Saleh banget ya… mereka.  Intinya mereka berdoa. Mereka tetap rendah hati.

Saya juga terkesan dengan kegiatan pengukuhan beberapa guru besar pada tanggal 4-5 Oktober yang lalu. Kegiatan pengukuhan itu menunjukkan sebuah keberhasilan. Karena berbagai pikiran yang dipaparkan itu bersumber dari dunia empiris, lalu dipadukan dengan proses penalaran logis dan rasional. Konsep-konsep telah mampu merangsang kita untuk terus merenungkannya. Ini merupakan buah dari strategi perabukan silang yang dicanangkan para pimpinan UPI terdahulu. Konsep-konsep itu dilahirkan guru besar yang menggeluti ilmu murni, tetapi bekerja dalam praktik pendidikan. Jadi, teori mereka  itu bersumber dari praktik dan diabdikan untuk meningkatkan kualitas praktik. Maka tibalah saatnya bagi kita sekarang untuk menguji, memvalidasi, dan memverifikasi teori mereka. 

Prestasi di atas diraih berkat dukungan berbagai pihak. Dukungan poliklinik yang mengobati jasmani warga UPI, dukungan pengelola gymnasium dan sarana olahraga yang mendukung  kebugaran fisik warga UPI, dan dukungan pengurus Alfurqon yang telah melayani kesehatan ruhaniah jamaah.  

Hadirin yang saya muliakan,

Dari muhasabah, kita juga beroleh pengalaman, bahwa kesuksesan  itu diraih setelah kita bekerja  kerja. Tidak ada kata sukses sebelum kata kerja. Bahkan dalam KBBI pun ditulis kerja dulu, baru sukses, kecuali dalam kamus bahasa Inggris, succes dulu baru work.  Mengapa? Karena kerja merupakan harga yang harus kita bayar untuk meraih sukses.

Bekerja merupakan inti kehidupan. Seluruh waktu menjadi sirna dan terlupakan, jika tidak diisi dengan bekerja. Wal’ashr innal insana lafi khusrin. Illaladzina amanu wa ‘amilush shalihati watawashau bil haqqi wa tawashau bishshobri. Sungguh manusia itu diliputi kerugian mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, merugi dalam seluruh dimensi kehidupannya. Kecuali orang yang beriman dan berpikir. Lalu keyakinan dan pikiranya diwujudkan dalam  amal dan karya nyata.

Karena itu, dalam bahasa Arab, usia kita disebut umur. Artinya rentang usia itu harus diisi dan dimakmurkan dengan kerja atau amal. Umur itu tidak bisa menunggu. Ia akan berjalan terus. Keberkahan umur terdapat pada amal dan karya yang baik.

Saya yakin,  keberhasilan yang kita raih merupakan kenikmatan. Jika kenikmatan itu tidak membuat kita semakin dekat dengan  Allah, maka ia bukan nikmat namanya, tetapi bencana.

Hadirin yang saya muliakan,

Dari kegiatan muhasabah, kita tahu bahwa kita juga mengalami kegagalan. Ya, memang manusia itu hidup pada dua sisi: kesuksesan dan kegagalan. Jangan salah, kesuksesan itu lahir dari rahim kegagalan. Namun, pernyataan ini hanya berlaku bagi orang yang belajar dari pengalaman dirinya dan orang lain.  Maka, selamat datang kegagalan, jika ia akan membawa kita pada tercapainya tujuan.  Untuk apa menangisi masa lalu. Yang paling penting ialah merencanakan apa yang akan kita lakukan sekarang. Cara pandang inilah yang akan membedakan diri kita dari yang lain. Kalaulah kondisinya berubah, maka kitalah yang pertama kali harus berubah, bukan orang lain.

Kegagalan itu noktah yang akan memotivasi akal kita dengan kuat untuk mencari jalan. Kegagalan itu dapat selesaikan selama kita bersabar. Nabi saw. bersabda,

قال النبي صَلعم: وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وأنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وأنَّ مَعَ العُسْرِ يُسرا

Ketahuilah, pertolongan itu di balik kesabaran, jalan keluar itu di balik kesulitan, dan sejumlah kemudahan itu di balik satu kesulitan.

Hadirin yang saya hormati,

Muhasabah tersebut bukanlah untuk membenarkan tindakan kita, tetapi untuk memperbaiki kinerja kita. Jadi, marilah kita nikmati pekerjaan. Marilah kita menikmati hidup dengan rasa bahagia dan ceria.  Mengapa? Karena  aneka persoalan yang sulit, sudah ditangani Allah. Janganlah terlalu keras berpikir, sebab dunia ini sudah diatur oleh yang Maha Mengatur (al-Qayyum) dan sudah ditentukan kadarnya oleh al-Muqtadir.

Hadirin yang saya muliakan,

Demikianlah sambutan yang dapat saya sampaikan. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu, dan hadirin sekalian.

Akhirul kalam wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Bandung, 20 Oktober 2016

Ketua Senat Akademik UPI,

Syihabuddin, Prof. Dr.


Berita | Kontak

© Copyright Senat Akademik UPI 2008